Pernah Dengar Kata Siwer ? Apa Bedanya Dengan Mata Silinder

Pernah Dengar Kata Siwer ? Apa Bedanya Dengan Mata Silinder

 

Percaya atau tidak, persentase orang yang mengalami mata silinder (beberapa menyebutnya mata silindris) atau bahasa ilmiahnya astigmatisma, diperkirakan mencapai satu berbanding tiga. Artinya, di antara tiga orang ada satu yang mengalami mata silinder. Kenapa bisa sebanyak itu?

Kondisi penglihatan yang terbilang umum seperti kelainan refraksi mata lainnya ini biasanya merupakan bawaan sejak lahir. Atau, bisa jadi kelainan ini baru berkembang seiring pertumbuhan seseorang. Namun, ada juga yang baru mengalami mata silinder setelah cedera mata atau komplikasi ketika menjalani operasi mata.

Dan, kelainan mata silinder sering kali terjadi berbarengan dengan miopia (rabun jauh) atau rabun dekat (hipermetropia), walaupun bisa juga berdiri sendiri.

Apa sebenarnya yang terjadi pada mata silinder dan bagaimana cara mengatasinya? Cari tahu di sini, ya.

 

Apa itu astigmatisma?

Mata Anda terdiri atas berbagai bagian. Bagian-bagian tersebut saling bekerja sama untuk meneruskan cahaya yang masuk ke mata di sepanjang jalur menuju otak. Cahaya kemudian masuk melewati kornea, bagian bening serupa jendela kaca di bagian depan mata. Lalu, kornea membiaskan cahaya tersebut melalui lensa mata agar jatuh tepat pada retina. Tugas retina kemudian mengubah cahaya tersebut menjadi sinyal listrik yang dikirim oleh saraf optik ke otak Anda. Otak Anda kemudian menggunakan sinyal-sinyal tersebut untuk menciptakan gambar dari objek yang Anda lihat.

Jika menderita astigmatisma, cahaya yang masuk ke mata Anda dibiaskan lebih banyak daripada yang seharusnya. Namun, cahaya tersebut tidak dapat fokus tepat pada retina. Ini berarti hanya sebagian objek yang berada dalam fokus. sementara sebagian lagi berada di luar fokus. Fokus yang tidak merata itu membuat objek terlihat buram atau bergelombang.

Mata silinder dapat memengaruhi penglihatan Anda pada jarak berapa pun, baik jarak dekat maupun jarak jauh. Itulah kenapa Anda mungkin akan mengalami kelelahan mata, karena mata Anda terus-menerus bekerja sangat keras untuk bisa melihat dengan jelas setiap saat.

Setiap orang dapat mengalami astigmatisma. Banyak orang terlahir dengan kondisi astigmatisma. Sebagian lainnya baru mengalaminya ketika dewasa. Artinya, Anda bisa mengalaminya kapan saja tanpa diduga. Kondisi kelainan refraksi mata ini bisa membaik atau memburuk seiring berjalannya waktu.

 

Penyebab astigmatisma

Kelainan refraksi mata umumnya merupakan keturunan dari orang tua yang ditandai oleh bentuk bola mata yang tidak sempurna. Mata silinder terjadi karena lengkungan kornea, yaitu bagian mata yang berada di depan, memiliki bentuk lengkung yang tidak beraturan. Dalam keadaan normal permukaan kornea berbentuk bulat sempurna, seperti permukaan bola basket atau bola baseball. Sementara itu, pada mata silinder, bentuk permukaan kornea mendekati bentuk oval, seperti permukaan bola rugby atau permukaan telur.

Bentuk permukaan kornea yang tidak sempurna ini membuat cahaya tidak mampu membias dengan sempurna pula, sehingga tidak bisa jatuh secara tepat di retina. Akibatnya, penglihatan menjadi kabur atau terdistorsi.

Ada tiga hal yang menjadi penyebab terjadinya mata silinder, tergantung pada bentuk kornea dan lensa, yaitu:

1. Astigmatisma kornea reguler

Kondisi ini biasanya bersifat genetik, dan merupakan jenis mata silinder yang paling umum ditemukan. Penyebabnya adalah kornea yang berbentuk oval.

2. Astigmatisma kornea tidak beraturan

Kondisi ini bisa disebabkan oleh cedera mata, komplikasi dari operasi mata tertentu, atau keratokonus, yaitu suatu penyakit mata yang menyebabkan penipisan kornea.

3. Astigmatisma lentikuler

Kondisi ini disebabkan oleh lengkungan lensa mata yang tidak beraturan.

 

Selain itu, mata silinder juga dikategorikan dalam tiga tipe, yaitu:

1. Silinder miopia

Ini adalah astigmatisma yang berkombinasi dengan miopia, Kondisi ini terjadi, ketika kedua lengkungan pada kornea atau lensa (lengkung dari atas ke bawah dan dari sisi ke sisi), terfokus di depan retina.

2. Silinder hipermetropia

Ini adalah jenis mata silinder yang terjadi, ketika salah satu atau kedua meridian utama mata terfokus pada rabun dekat, yaitu di belakang retina. Tipe ini pun dibagi lagi menjadi dua, yaitu silinder hipermetropia sederhana (satu sumbu bola mata fokus pada retina, sumbu lainnya fokus di belakang retina) dan silinder hipermetropia majemuk (kedua sumbu bola mata fokus di belakang retina).

3. Silinder campuran

Ini adalah astigmatisma yang terjadi pada mata yang mengalami rabun jauh dan juga rabun dekat, karena cahaya mengenai bagian depan dan belakang retina.

Seperti kelainan refraksi mata lain, kondisi mata silinder juga memunculkan gejala berupa penglihatan yang kabur, samar, atau berbayang. Jika mengalami astigmatisma, ada beberapa gejala lain yang mungkin Anda rasakan, antara lain:

  1. Distorsi (penyimpangan) penglihatan
  2. Mata terasa tegang
  3. Pusing
  4. Mata terasa lelah
  5. Sering memicingkan mata

 

Selain faktor keturunan dari keluarga, ada pula sejumlah kondisi yang menjadi faktor risiko munculnya mata silinder, seperti:

1. Keratokonus.

Kondisi mata ini dapat menyebabkan astigmatisma, dengan cara membuat kornea mata berbentuk kubah.

2. Cedera mata

Yang perlu menjadi perhatian adalah cedera mata yang mengarah pada trauma atau kerusakan mata yang menyebabkan astigmatisma, karena memengaruhi bentuk kornea atau lensa.

3. Usia

Bertambah usia merupakan proses alami tubuh yang bisa menyebabkan mata silinder. Karena Anda menua, mata juga akan ikut menua dan berubah, sama seperti bagian tubuh lain.

4. Operasi mata

Prosedur pembedahan mata dapat menyebabkan astigmatisma, karena kemungkinan adanya komplikasi selama prosedur.

5. Penyakit mata

Penyakit mata yang dimasud adalah penyakit yang dapat memengaruhi mata dan strukturnya, sehingga kemudian meningkatkan risiko terjadinya astigmatisma.

 

Periksakan diri ke dokter

Saat mengalami beberapa gejala di atas, ada baiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter, sebelum gejala memburuk dan menjadi parah. Misalnya, kelelahan mata makin sering terjadi atau pusing yang dirasa semakin hebat.

Mata silinder hanya dapat didiagnosis dengan pemeriksaan mata. Dokter akan meminta Anda untuk memandang garis-garis yang terentang lebih dari 360 derajat untuk melihat titik mana yang bisa dilihat dengan lebih fokus.

Dokter akan melakukan sejumlah tes, sebelum menentukan apakah Anda memang mengalami astigmatisma atau tidak. Beberapa tes di antaranya adalah:

1. Tes retinoskopi

Saat tes retinoskopi, dokter akan menyinari mata Anda dengan cahaya, sambil memegang serangkaian lensa di depan mata, untuk menentukan tingkatan mata silinder.

2. Tes silinder silang (cross cylinder)

Saat menjalani tes silinder, Anda harus memandang melalui lensa untuk melihat garis paralel, baik vertikal maupun horizontal. Dokter akan mengukur kekuatan lensa yang memungkinkan semua garis terlihat dengan jelas.

3. Tes ketajaman penglihatan

Tes ini merupakan tes yang memeriksa penglihatan Anda. Apakah Anda pernah melihat bagan berisi susunan huruf atau simbol yang ditempel di dinding? Itu artinya  Anda sudah pernah menjalani tes ketajaman penglihatan.

4. Tes refraksi

Tes ini diperlukan untuk mengukur seberapa banyak cahaya yang difokuskan dan dibelokkan saat memasuki mata Anda.

5. Keratometri

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengukur lengkungan kornea.

6. Pemeriksaan lampu celah

Pemeriksaan ini menggunakan slit lamp, yaitu mikroskop khusus dengan cahaya terang yang disorotkan pada mata Anda. Mereka akan menyesuaikan kecerahan dan ketebalan sinar untuk melihat berbagai lapisan dan bagian mata Anda.

 

Solusi awal: kacamata atau lensa kontak

Jika Anda dinyatakan mengalami mata silinder yang ringan usai menjalani pemeriksaan mata yang komprehensif, dokter akan meresepkan kacamata atau lensa kontak dengan ukuran yang tepat. Resep kacamata dari dokter akan menyebutkan nilai untuk menunjukkan kekuatan lensa silinder yang ditandai di bawah kata ‘cyl‘. Kata ini menunjukkan koreksi untuk astigmatisma.

Kalau Anda termasuk orang yang sangat aktif, dokter mungkin akan menyarankan penggunaan lensa kontak, sehingga Anda bisa bergerak dengan lebih leluasa. Lensa kontak yang digunakan untuk mengoreksi mata silinder disebut dengan lensa toric. Jika memiliki astigmatisma yang terbilang ringan, Anda punya pilihan untuk menggunakan softlens sekali pakai.

Namun, jika mengalami astigmatisma dengan derajat yang tinggi, Anda mungkin memerlukan lensa sklera, yaitu lensa yang menutup hampir seluruh permukaan mata, termasuk bagian berwarna putih. Lensa sklera mempunyai diameter lebih besar daripada lensa kontak kornea.

Opsi lain adalah Ortho-Keratology (Ortho-K), suatu prosedur tanpa bedah yang membuat Anda harus memakai lensa kontak yang kaku. Lensa ini dibuat untuk membentuk ulang lengkungan kornea secara bertahap. Anda diharuskan memakai lensa tersebut semalaman setiap saat tidur, lalu melepasnya. Karena lengkungan kornea berubah, maka cara cahaya dibiaskan di mata juga akan berubah.

 

LASIK: solusi terbaik

Ada satu solusi bersifat jangka panjang yang juga bisa Anda pertimbangkan, yaitu LASIK. Prosedur laser ini akan mengubah bentuk kornea secara permanen hingga bisa membiaskan cahaya dengan sempurna. Dipraktikkan sejak bertahun-tahun lalu, prosedur laser terbukti efektif untuk mengoreksi kelainan refraksi mata. Efek sampingnya pun terbilang minimal, misalnya mata menjadi kering.

Berita bagusnya, prosedur LASIK mampu mengoreksi beberapa kelainan refraksi mata dalam satu tindakan. Jadi, Anda tak perlu menjalani prosedur berulang kali. Contohnya, Anda memiliki dua kelainan refraksi mata, yaitu mata silinder dan minus atau mata silinder dan plus (hipermetropia). Dua kelainan itu bisa dikoreksi sekaligus dalam satu kali prosedur lasik. Dengan begitu, Anda dapat mengatasi dua masalah penglihatan dalam waktu yang relatif cepat dengan risiko sangat minimal.

Namun, jangan lupa, tidak semua orang bisa menjalani prosedur LASIK. Ada pemeriksaan pra-lasik yang komprehensif yang perlu Anda lalui terlebih dahulu. Jika dari pemeriksaan tersebut Anda dinilai layak dan bisa dioperasi, barulah dokter akan memberikan edukasi dan informasi yang lengkap, sebelum kemudian lanjut menuju tindakan bedah.

Kesuksesan operasi LASIK juga sangat tergantung pada kepatuhan pasien sebelum, ketika, dan sesudah operasi. Contohnya, setelah operasi, mata Anda tidak boleh terkena air selama beberapa waktu. Tapi, karena terasa gatal, maka Anda nekat mengenainya dengan air. Akibatnya, bisa terjadi iritasi atau infeksi.

 

SILC Lasik Center menawarkan layanan prosedur LASIK yang sangat direkomendasikan. Sebanyak 99,7 persen operasi LASIK yang dilakukan oleh dokter di klinik tersebut sesuai dengan prediksi. Beberapa pasien menilai, penglihatan mereka menjadi lebih tajam setelah operasi mata. Demi kenyamanan dan keamanan pasien, di klinik ini tersedia dua mesin laser dengan kecepatan operasi tertinggi di dunia. Selain itu, ada pula mesin laser berteknologi mutakhir, yang sejauh ini menjadi satu-satunya di Indonesia dan Asia Tenggara.

 

Leave a comment

Your email address will not be published.